Photo by Caspar Camille Rubin on Unsplash

“Saat ini kebutuhan untuk solusi infrastruktur tepat guna dengan dukungan performa komputasi dedicated menjadi semakin tinggi. Biznet Gio Cloud telah melakukan pengujian menyeluruh terhadap prosesor AMD hingga melewati Batasan kapasitas yang seharusnya demi merancang layanan komputasi paling terbaik serta hemat biaya bagi end user.” –

Dondy Bappedyanto, CEO Biznet Gio

Pendekatan strategi proaktif dibandingkan pendekatan reaktif pada bisnis akan sangat membantu perusahaan untuk tetap bertahan dan menjadi yang terdepan di tengah ketatnya persaingan. Mengadopsi pendekatan proaktif juga dapat membantu bisnis bergerak gesit dan tangguh dalam menghadapi setiap hambatan serta kondisi yang sedang terjadi di dunia. 

CIO (Chief Information Officer) perlu melakukan inisiatif untuk modernisasi dan melakukan konsepsi ulang sistem bisnis agar beralih ke pendekatan strategi proaktif. Tidak hanya dengan memaksimalkan kerja remote, tetapi secepat mungkin meningkatkan produktivitas sekaligus merampingkan proses bisnis secara keseluruhan. Salah satunya dengan pemanfaatan infrastruktur IT yang mampu menghadirkan komputasi dengan performa tinggi dalam rangka meningkatkan efisiensi, fleksibilitas, dan skalabilitas.  

Seberapa pentingkah migrasi cloud dalam proses transformasi digital?

Sebelum membahas peranan migrasi cloud dan transformasi digital, hal pertama yang harus dipahami adalah pemahaman soal “transformasi digital”. Proses transformasi digital melibatkan pemanfaatan dan penggabungan aplikasi, teknologi, analisa big data, IoT, dan machine learning. Penggabungan tersebut melibatkan sebaran data yang cukup besar serta membutuhkan sumber daya yang bisa mengakomodasi seluruh proses termasuk pembaharuan standar keamanan. Hadirnya layanan cloud memungkinkan sebuah organisasi untuk mengolah beban kerja yang berat tanpa perlu melakukan membeli, memiliki, ataupun mengelola infrastruktur fisik.    

Proses migrasi ke cloud mendorong fleksibilitas, skalabilitas, penghematan biaya, serta efisiensi sumber daya. Dengan investasi yang tepat melalui teknologi cloud, proses transformasi digital serta proses integrasi termasuk beban kerja berjalan dapat berlangsung tanpa hambatan. Sehingga perusahaan akan menikmati keuntungan signifikan yang berasal dari proses komputasi yang optimal baik dari segi efisiensi beban kerja, fitur keamanan canggih, serta efisiensi biaya dan sumber daya yang tepat. Dengan tersedianya prosesor bertaraf internasional dari AMD EPYC™ pada layanan public cloud, beban kerja yang paling berat pun bisa ditampung dan menghadirkan transformasi infrastruktur yang hemat biaya.

Organisasi di seluruh dunia pun sadar akan hal ini. Adopsi cloud semakin pesat dikarenakan seluruh lini bisnis terlibat dalam transformasi digital. Faktanya, menurut IDC, “total pengeluaran di seluruh dunia untuk layanan cloud akan melewati $1,3 triliun pada tahun 2025 dengan memperhitungkan compounding annual growth rate (CAGR) sebesar 16,9%.”[1] 


Meskipun demikian, cloud bukanlah sebuah solusi untuk segala hal, beberapa sistem bisnis mungkin belum cocok untuk mengadopsi cloud. Ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan misalnya beban kerja. Faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah volume data dan tingkat informasi rahasia/hak milik yang dapat mempengaruhi seberapa efisien dan tepat cloud bagi perusahaan. Dengan melakukan analisa risiko/manfaat yang menyeluruh serta mempelajari cara kerja hybrid cloud dan edge akan membantu mengidentifikasi jenis layanan cloud paling optimal yang dibutuhkan oleh masing-masing bisnis. 

Pertumbuhan ekosistem cloud di Indonesia

Photo by Kabiur Rahman Riyad on Unsplash

Seiring dengan langkah Indonesia menuju revolusi Industri 4.0 dengan program “Making Indonesia 4.0”, peningkatan permintaan infrastruktur digital termasuk data center dan layanan terkait cloud semakin tidak terhindar, dengan adanya pemenuhan kebutuhan diharapkan dapat mendukung fondasi negara dalam hal transformasi digital.  

Dengan merealisasikan hal tersebut, penyedia IaaS, termasuk Hyperscaler, menangkap peluang besar ini untuk memasuki pasar Indonesia. Menurut IDC, Asia/Pasifik sedang mengalami transformasi dari core to edge, dengan kemunculan sub-regional data center (cluster/hubs) dan menjadikan Jakarta sebagai pusat dan pesaing utama di region Asia Tenggara[2].  

Selain pesaing global, industri cloud lokal pun bersanding ketat. Akibatnya, perang harga di layanan infrastruktur tidak dapat dihindari. Persaingan harga berkombinasi dengan kualitas layanan yang kurang optimal, memancing Biznet Gio untuk merancang strategi tepat demi menciptakan layanan cloud berkualitas tinggi dengan harga bersaing untuk memenangkan pasar.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Biznet Gio berinovasi untuk menyediakan layanan cloud yang mampu menghadirkan keandalan layanan serta mengedepankan teknologi mutakhir dengan harga paling terjangkau.

PT Biznet Gio Nusantara (Biznet Gio) sebagai Cloud Service Provider (CSP) di Indonesia fokus untuk menyediakan Infrastructure as a Service dari layanan private cloud, public cloud, hingga hybrid cloud, termasuk layanan konsultasi dan managed services. Kini produk dan layanan Biznet Gio didukung oleh AMD, dan Biznet Gio terus memberikan komitmen SLA 99,9%, fasilitas bandwidth gratis, serta dukungan teknis 24 jam. Dondy Bappedyanto, CEO Biznet Gio mengungkapkan, “Prosesor AMD memiliki jumlah core tinggi dengan harga kompetitif, menjadikannya salah satu komponen COGS yang handal sekaligus memungkinkan terciptanya produk dengan harga jual bersaing tanpa perlu mengorbankan spesifikasi atau performa.”

Biznet Gio menghadirkan dua segmen layanan cloud. GIO untuk segmen enterprise dan NEO untuk segmen self-service. Misi Biznet Gio adalah menjadi Cloud Service Provider (CSP) lokal papan atas dalam hal menghadirkan Infrastruktur terjangkau dengan performa layanan yang tinggi kepada end-user. Untuk itu, Server Bare Metal hadir pada akhir tahun 2021 dan menjadi salah satu layanan yang paling dinanti di tahun ini.  

Menentukan yang Paling Tepat untuk Organisasi Anda: Private, Public, atau Hybrid Cloud?

Photo by Christina @ wocintechchat.com on Unsplash

Tentunya tidak ada solusi menyeluruh untuk segala hal.   

Dalam skema private cloud, perusahaan membeli layanan cloud dari penyedia layanan namun meminta penyedia cloud untuk memberikan sumber daya terdedikasi khusus untuk penggunaan perusahaan tersebut.

Dalam skema public cloud, penyedia cloud yang melakukan pengelolaan infrastruktur serta menjual layanan cloud sendiri kepada end-customer. Pelanggan dapat menggunakan layanan cloud sesuai dengan perjanjian dan mungkin tidak mengetahui bagaimana infrastruktur tersebut dikelola.

Bisnis kecil dengan kemampuan finansial terbatas kemungkinan besar akan memilih public cloud  karena dapat menjadi solusi cloud yang paling terjangkau dan bisa digunakan dalam waktu singkat. Di lain pihak, perusahaan dengan basis infrastruktur IT besar akan dihadapkan dengan pilihan yang cukup kompleks seperti masalah adaptasi teknologi atau pemenuhan regulasi yang harus dipertimbangkan. Situasi ini akan membutuhkan analisa mendalam serta perencanaan yang matang untuk memetakan bagaimana sistem cloud akan diadopsi oleh perusahaan.  

Selain opsi public dan private cloud, skema hybrid cloud saat ini juga tengah meningkat pesat, dan digunakan secara langsung untuk mengatasi beberapa tantangan, seperti: (1) Kebutuhan mengatasi workload yang dinamis, (2) terdepan dalam menghadapi tantangan keamanan, dan (3) pengaturan biaya secara efektif saat memindahkan data antara edge, public, dan private cloud. Sebuah bisnis yang memiliki infrastruktur besar kemungkinan memiliki aplikasi yang tidak cocok dengan layanan cloud pada umumnya dan menemukan bahwa opsi hybrid cloud lebih cocok untuk di terapkan.   

Meskipun demikian, cloud bukan berarti bisa menjadi solusi 100% untuk semua, tidak semua beban kerja dapat diaplikasikan sepenuhnya pada cloud. Oleh karena itu, memindahkan seluruh infrastruktur IT industri ke cloud mungkin bukan strategi yang paling efektif, karena belum tentu semua aplikasi cocok untuk mengadopsi cloud.

Kesimpulan

Photo by Kirill Sh on Unsplash

Sebelumnya disebutkan pembahasan mengenai beberapa manfaat dari berbagai penawaran cloud, dan mengapa hal itu penting dalam proses transformasi digital. CIO harus tetap memperhatikan tren komputasi awan baik private, public, dan hybrid untuk memperkuat dan memperluas platform organisasi secara strategis guna memenuhi tuntutan bisnis secara lebih gesit. 

Dikatakan oleh Dondy sebelumnya bahwa, “Prosesor AMD memiliki jumlah core tinggi dengan harga kompetitif, menjadikannya salah satu komponen COGS yang handal sekaligus memungkinkan terciptanya produk dengan harga jual bersaing tanpa perlu mengorbankan spesifikasi atau performa.”

Dengan komitmen Biznet Gio untuk menyediakan platform yang mudah digunakan dan andal dengan secara konsisten merilis produk terbaru dari hosting dan solusi web, AI/ML, hingga edge computing, AMD bangga dapat bekerja sama dengan perusahaan seperti Biznet Gio, sebuah tim yang berbagi semangat yang sama untuk inovasi seperti yang AMD lakukan.


Reference link:

[1] Source: IDC Forecasts Worldwide “Whole Cloud” Spending to Reach $1.3 Trillion by 2025, 14 September 2021

[2] Source: IDC Market Analysis Perspective: Indonesia Datacenter Operations and Colocation Market Trends, 2022 (Doc #AP46315521)


Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *